Mengenalkan Allah SWT pada anak

...

Ceritanya, kakak Emil mengumpulkan uang celengan dan akhirnya tibalah waktu untuk membukanya, mau dibelanjain. hhehe. Nah, setelah dibelanjakan mainan yang diincar, uang celengan Emil masih ada sisanya. Pas dateng ke salah satu toko buku impor, Emil langsung ingat wishlistnya yang sudah terpendam lama. “Mau mainan organ tubuh manusia” Waktu itu uang celengan Emil masih kurang. Sebenarnya bisa saja langsung Bundami belikan, tapi Bundami ingin menancapkan lagi kesabaran Kk dalam mengelola keinginan memiliki sesuatu. 

.

Kami pending beberapa hari membeli wishlist Kakak, kemudian tiba-tiba yabi pas pulang kasih surprise belikan mainan human body itu untuk kakak. Kakak langsung girang sekali. Alasan kami membelikannya juga, karena metode pembelajaran untuk anak usia balita baiknya masih hal-hal konkrit, yang bisa dilihat, disentuh dan dirasakan langsung. Jadi biar Kk juga bisa paham seperti apa organ dalam tubuhnya, besar ukurannya, fungsinya; untuk membuat Kk lebih mengenal dirinya dan memahami penciptanya.

.

“Man arafa nafsahu, faqad arafa rabbahu… barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya…”

.

Sebisa mungkin, Yabi-Dami berusaha di setiap pembelajaran Kk, dikaitkan pada salah satu tema utama dalam pendidikan rumah kami; yaitu Tauhid. Mengenalkan Allah pada anak-anak. Meski otak anak yang konkrit boleh jadi belum mampu menerjemahkan hal-hal ghaib, tapi adanya Tuhan yang mengatur segala tetap perlu diperkenalkan sedari dini. Melalui berbagai permainan ataupun pembelajaran yang lebih bisa dimengerti anak.

.

Seperti pada pembelajaran mengenali organ Tubuh ini, kami (Yabi tepatnya) coba metode perbandingan organ tubuh mainan, dengan organ tubuh diri sendiri. 

.

“Ini otak ya kak, adanya dimana ini?”

“Di dalam kepala.”

“Nah kalau otak Kakak ada dimana?”

“Di sini…” sambil nunjuk kepalanya

“Kalau otak yabi dimana?”

“Di sini” sambil menunjuk kepala Yabi.

“Kalau otaknya Bundami di mana?”

“Di sini.” sambil menunjuk kepala Bundami

“Yang menciptakan otak kita siapa kak?”

“Allah…”

“Ya betul Allah yang menciptakan, nah kalau otak yang ada di mainan ini buatan siapa?”

“Buatan manusia kalau ini, beda lebih kecil dan gak bisa hidup.”

.

Lalu kami membandingkan organ lain, posisinya dan fungsinya, mirip seperti diskusi mengenai otak tadi.

.

Bundami juga ajak Kakak mencocokkan organ tubuh yang ada, dengan printablenya. Di situ Kakak langsung bisa mencocokkan semuanya. Tapi bundami juga sambil mereview kembali pengetahuan Kakak tentang fungsi general setiap organ.

.

“Otak fungsinya apa?”

“Untuk berpikir.”

“Kalau paru-paru untuk apa?”

“Untuk bernapas.”

“Kalau jantung?”

“Buat deg deg.”

“Hehehe iya ya kak bunyinya deg deg, berdetak itu namanya kak, lagi mompa darah.”

“Oh mompa darah yaa….”

“Iya biar kita tetap hidup.”

.

Kami tak berekspektasi Emil langsung memahami keberadaan Allah Tuhannya, untuk menggerakkan setiap organ yang ada. Tapi setidaknya  logika berpikir Kakak akan main bahwa setiap organ yang ada tidak bergerak atau hidup begitu saja. Semoga Allah yang bantu memahamkan Kakak, karena mudah bagi-Nya untuk memberi pemahaman pada otak anak-anak kita.

.

Setelah banyak eksplor copot-pasang organ tubuh, diskusi mengenai hal tersebut, tiba-tiba kakak Emil menunjukkan cara mainnya sendiri.

 

“Yabi… ini orangnya lagi sujud, dia lagi sholat…”

“Oh iya ya kak betul lagi sholat…”

“Organ-organ nya nggak jatuh yah…”

“Eh iya yah nggak jatuh.”

“Tapi bentar lagi jatuh, tuh kan jatuh…”

“Iya kak soalnya kan mainan… lebih rapuh yaa…”

“Iya cepet copot…”

“Kalau kakak sujud sholat, organnya jatuh nggak?”

“Nggak jatuh…”

“Kenapa nggak jatuh kak?”

“Soalny sama Allah…”

“Iya, atas izin Allah ada otot yang nahan organnya biar nggak pada jatuh ya kak. Kan kalau kita ada kulit juga yang melindungi tiap organnya.”

“Iya kulit, kalau ini kaca…”

“Hahaha.., iya kak kaca plastik yah…” ?

 

Kajian tauhid merupakan salah satu hal yang menjadi prioritas utama dalam pendidikan rumah yang kami jalani. Biasanya lebih banyak Yabi sih yang ngajak Kakak diskusi mengenali hal-hal begini. Kalau ke luar mengenal alam,melihat langit, perubahan siang malam dsb; biasanya Yabi bisa ngajak Kakak diskusi untuk menajamkan logika berpikir Kakaj, menghubungkan kejadian alam dengan penciptanya. Mungkin kita sendiri ngerasanya anak-anak belum mengerti dan memahami yah. Tapi justru di usia golden age ini, menanamkan tauhid sudah perlu diterapkan pada anak-anak, di saat “critical area otak mereka belum berfungsi. Oleh karenanya setiap informasi yang masuk pada mereka, akan langsung masuk bawah sadar. Otaknya menyerap informasi apa saja seperti spons. Itulah mengapa penting menanamkan hal-hal baik sedari dini, karena hal itu yang akan menjadi standar “hitam-putih” dalam otak mereka.

 

Kalau selepas golden age, dan “critical area” mereka berfungsi, otak mereka akan menyaring berbagai informasi sesuai dengan ‘database pemahaman otak’ yang sudah ada sebelumnya. (Nanti kita diskusi dan bahas soal ini lengkapnya, lain waktu ya ?)

.

Mari kenalkan Tuhan pada diri anak se dini mungkin, dengan banyak diskusi bersama mereka dan mengenalkan hal-hal di sekitar dengan Pencipta Semesta. ?

.

Bismillah ??

.

Bandung, Oktober 2016

dari seorang ibu, yang masih berusaha memperbaiki kualitas spiritual dirinya sendiri.

-Fufu Elmart-

Next Article