Belajar Parenting dari Nabi Ibrahim

...

Sebentar lagi kita umat muslim akan merayakan Idul Adha. Idul Adha ini sedemikian istimewa, karena seperti yang sudah kita ketahui bersama, ini adalah sebuah perayaan kelulusan ujian cinta, dimana Nabi Ibrahim memilih untuk menjadi jiwa yang merdeka, dengan menghamba secara utuh hanya kepada Allah SWT, meski perlu dengan pengorbanan yang sangat besar. Di seluruh dunia, Idul Adha ini dirayakn besar-besaran dengan diundangnya seluruh muslim ke tanah suci dalam ibadah haji, dan bagi yang belum berkesempatan, berqurban di rumah masing-masing pun menjadi kenikmatan tersendiri.

 

Nah, kisah tentang Nabi Ibrahim ini, tentunya sudah kita ketahui bersama, dan bersumber dari Al-Quran surat Ash-Shaffat ayat 99 - 111. Dan kita bisa mendapatkan banyak sekali hikmah dari kisah ini. Dan pada kesempatan ini, ternyata penulis melihat bahwa ada mutiara pengasuhan yang bisa kita ambil dari kisah ini, terutama yang ada pada ayat 102, yang terjemahannya:

 

'Maka, ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusahan bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!". Dia (Ismail) menjawab, "Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (Ash-Shaffat : 102)

 

 

Coba deh perhatikan bentuk komunikasinya. Bentuk komunikasi seorang ayah yang mendapatkan perintah untuk beribadah, dalam hal ini perintahnya adalah menyembelih anak kandungnya sendiri, namun perintah langsung dari Allah SWT ini tidak sertamerta menjadikan Nabi Ibrahim sebagai ayah yang otoriter, 'Nak, ini perintah Allah! Tidur sini, ayah akan menyembelihmu!'. Bukan seperti itu.

 

Namuun justru, beliau tetap terbuka menunggu suara hati anaknya ketika sang ayah menyampaikan hal demikian, dengan berkata, 'pikirkanlah bagaimana pendapatmu'. Nabi Ibrahim mengundang sang anak untuk berdiskusi dalam hal memperkenalkan perintah-Nya yang baru saja turun saat itu melalui mimpi.

 

Ucapan tersebut, tentu saja memberikan peluang bagi sang anak untuk berkata, 'tidak', kan? Namun pilihan kata seperti ini pula, luar biasanya, membuat sang anak, dengan pilihannya sendiri, dengan kesadarannya sendiri, dan tanpa paksaan, memilih sebuah pilihan yang murni dan tulus dari hatinya...

 

Sedang kita, sebagai orangtua, bagaimana selama ini kita memperkenalkan dan mengajak berbagai macam perintah-Nya?

 

Semoga kita, bukan orangtua yang otoriter, yang memaksa anak-anaknya untuk menjalankan berbagai macam ibadah-Nya sambil melabeli 'anak durhaka', 'anak bandel masuk neraka', atau ucapan-ucapan tak pantas lainnya sambil mata melotot, intonasi suara melengking, dan bahkan raut wajah yang merah tajam. Tindakan-tindakan otoriter seperti ini justru hanya menjadi bukti kurang kreatifnya kita sebagai orangtua tentang bagaimana mengajak anak kepada kebaikan dengan cara santun. Tentu saja, sebagai orangtua, kita perlu punya otoritas, tanpa perlu bertindak otoriter, kan? :)

 

Maka, mari kita rayakan Idul Adha tahun ini dengan memberikan hadiah terindah bagi anak-anak kita, berupa keteladanan terbaik, kesantunan terindah bagi anak-anak kita :)

 

 

 

by : @canunkamil

Next Article