Belajar Menjadi Ayah yang Bijaksana seperti Nabi Ibrahim AS.

...

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". QS.Ash-Shaffat ayat 102

Ayat di atas, seperti yang diketahui bersama secara keseluruhan membahas tentang ujian Tauhid Cinta Nabi Ibrahim yang merupakan perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya. 

Namun, dari ayat di atas ada ‘’pesan’’ yang cukup menarik tentang bagaimana Ibrahim mengkomunikasikann perintah yang berat itu kepada anaknya. 

Karena itu, ada beberapa ibrah yang bisa kita ambil dari  Ayat di antaranya adalah:


1. Sesuai dengan kisah pada ayat di atas, sebelum Ibrahim menunaikan perintah Alloh untuk menyembelih Ismail, ia memilih untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan sang anak. Padahal bisa saja Ibrahim melakukan eksekusi penyembelihan itu secara langsung dan segera, baik saat Ismail tidur, menebas leher dari belakang saat ia lengah, atau dengan berbagai cara "aman" yang lain.

2. Dalam mengkomunikasikan perintah berat itu kepada anaknya, Ibrahim tidak menggunakan kalimat perintah yang bersifat monolog (satu arah). Tetapi ia lebih memilih berdialog (dua arah), yang dimulai dengan mengutarakan apa yang ia lihat dalam mimpinya dan meminta pendapat anaknya, "Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?".

3. Apa yang dilakukan oleh Ibrahim kepada Ismail tersebut adalah wujud kebijaksanaannya sebagai seorang ayah, dimana disitu menunjukkan adanya: kedekatan hubungan antara ayah dan anak (Al-Qar?bah), betapa demokratisnya sang ayah (Al-Musy?warah), dan praktek menghormati pendapat dan perasaan orang lain (ihtir?m ra'yil ?khar?n). Padahal Ismail adalah anaknya sendiri dan masih sangat belia.

4. Setidaknya itu membuat Ismail lebih siap secara mental dan meniatkan dalam kesediaan atau kesabarannya untuk mengharapkan ridho dari Allah Ta'ala. Dimana itu terlihat dengan jawabannya yang tegas, "'Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

5. Dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut di atas merupakan satu bentuk praktek dari motode pendidikan Qurani yang sangat efektif yaitu metode mendidik dengan dialog yang mencakup: memulai dengan pertanyaan, diskusi, debat, atau menyampaikan sekumpulan pertanyaan yang terpilih dan saling berhubungan, dimana dari pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya akan tersimpulkan sendiri oleh yang ditanya.

Sumber ; Ustadz. Hakimuddin Salim

Next Article